|
PROFILE Being Me is the greatest challenge to keep on moving when everything messed up to keep on going when my vision turns upside down to keep calm when my anger explodes to keep smiling when all I have is sadness to enjoy the real happiness that came only for a while but only this way these lessons had taught Me how to live these challenges that made me stronger inside out these stories that gave me strength to my weaknesses for each fate that you wrote for my Life is nothing better but THE BEST! “When you leave, remember to look back to see those you’re leaving behind. You never know, but they might be feeling miserable." YOUR SAY SO YESTERDAY October 2008 November 2008 December 2008 January 2009 February 2009 March 2009 April 2009 May 2009 June 2009 July 2009 August 2009 September 2009 October 2009 November 2009 December 2009 January 2010 February 2010 March 2010 April 2010 May 2010 June 2010 July 2010 August 2010 September 2010 October 2010 November 2010 December 2010 I'LL BE WATCHING YOU AimanKU AszafiraKU AtiqaKU AmiraKU AsiahKU FadilaKU FyraKU FarahinKU FazilaKU HadiKU MusuhKU HairulKU HikmaKU JuwairiyahKU MarizzaKU Kak ainKU Kak hannahKU Lembah IlmuKU NabilaKU NurulhudaKU NisyaKU SriKU UttKU ZulianaKU CREDITS edits by: nurfa
![]()
|
Sunday, November 2, 2008 @ 3:58 AM
hidup terlalu singkat untuk membenci Ah, terlalu sukar untuk memberi maaf. Bahkan lebih sukar daripada meminta maaf. Masih terasa tusukan rasa bagaikan sebuah dendam yang membara. Masih terngiang-ngiang segala kata. Masih terbayang semua tingkah dan perlakuan. Wajah 'orang-orang bersalah' itu terasa begitu menjengkelkan. Memberi maaf kepada mereka seolah-olah menggadaikan harga diri. Ah, apakah maruah ini terlalu murah untuk di sorong tarik dengan harga yang rendah? Dan cukup sakit, apabila mengenangkan 'musuh-musuh' itu tersenyum dengan kemenangan. Namun, itu hanya bisik 'hati besarku'. Yang melantunkan suara ego dan marah. Kesat dan kesumat. Tetapi jauh dari dalam diri...ada suara lain yang bergetar. 'Hati kecil' yang tidak jemu-jemu mengingatkan. Suara tulus yang mendamaikan gelombang jiwa. Bisik telus yang meredakan amukan rasa.Maafkan, lupakan...cintai, sayangi...Berperang dengan mereka bererti berperang dengan diri sendiri. Begitu bisik hati kecil itu selalu. Pada sebuah persimpangan rasa, tiba-tiba hati disapa oleh sebuah firman: "Tolaklah kejahatan dengan sebuah kebaikan. Nescaya engkau akan mendapati musuhmu akan menjadi seolah-olah saudara" Wahai diri,api jangan dilawan dengan api. Nanti bakarannya akan membakar diri sendiri. Menyimpan dendam sama seperti membina sebuah gunung berapi di dalam hati. Semakin besar dendam itu, maka semakin sakit hati yang menanggungnya. Musuh-musuh mu terus ketawa, sedangkan kau sendiri menderita meneguk bisa. Musim-musim terus berlalu sewajarnya mendewasakan aku. Pengalaman lampau sentiasa membuktikan bahawa permusuhan hanya akan memberi kepuasan sementara. Apabila 'fatamorgana' itu berlalu. Aku akan menjadi lebih dahaga daripada sebelumnya. Apakah akan ku terjah perangkap itu berkali-kali? Oh,tidak. Mukmin tidak akan terperosok dalam lubang yang sama dua kali. Begitu maksud sebuah sabda. Justeru? Cukup sekali! Kini hatiku tertanya-tanya lagi...siapa aku, yang begitu sukar memaafkan? Tuan? Tuhan. Aku hanya hamba. Sedangkan DIA Sang Pencipta itu Maha Pemaaf, Maha Pengampun, siapa aku yang kerdil ini untuk terus berdendam? Ya ALLAH, ampunkan aku. Sengaja atau tanpa sengaja, sering atau kekadang...aku 'terlanjur' menumpang hak-MU.. |